Viewed 404 times
Saya adalah Generasi Maling
by irgunawan on Mar.25, 2009, under Artikel, Targhib
Visited 405 times, 1 so far today
Rakyat Indonesia akan jadi gaptek plus jadi maling pak, sudah jadi orang bodoh masih memaksakan diri belajar barang yang mahal.
Jika tidak sanggup beli, sebaiknya tinggalkan software/OS yang menjadikan kita MALING. Masih ada alternatif OS/Software lain yang gratis.
Mencuri bukan pilihan, menggunakan barang halal itu kewajiban.
Jadi maling koq bangga. Apakah saya sebagai generasi muda saat ini mau diajarkan menjadi maling juga? Kan kita tahu bahwa kita tidak sanggup beli, ya jangan dipaksa. Saya siap dipaksa untuk belajar menggunakan OS/Software non-berbayar. Mau jadi maling sampe 7 turunan?
- Windows XP Lisence…saya tidak sanggup beli, apakah artinya saya boleh membajak?
- Microsoft Office Lisence…saya tidak sanggup beli, apakah artinya saya boleh mempelajari barang curian/bajakan?
- Adobe Photoshop Lisence…saya tidak sanggup beli, apakah saya boleh berkreasi menggunakan barang curian/bajakan?
Sebenarnya saya belajar komputer dan teknologi, tapi saya koq diajarin mencuri hasil kerja orang lain (programer) ?
MUI sudah bilang haram pake bajakan, tapi koq saya malah diajarin pake bajakan?
Apakah Allah tidak murka? jika saya terpaksa mencuri software sedangkan ada alternatif program/OS lain yang tak perlu dibeli?
Huhh…hare gene jadi maling???
Kan ada yang gratisan. Linux misalnya. Saya mengaku orang berpendidikaaaaan…koq malas belajar hal baru











March 26th, 2009 on 8:21 am
Ciri-ciri pengguna Sistem Operasi Linux :
1.Jujur, layak di jadikan anggota legislatif
2.Anti korupsi, masih punya harga diri untuk tidak menggunakan Sistem Operasi dan Aplikasi bajakan
3.Low Profile, ngga sombong, dan baik hati, rela CD/DVD nya di copy oleh orang lain
4. Rajin dan Pandai, karena mau mempelajari dan menguasai sesuatu yang oleh masyarakat umum dianggap ’susah..!!!’
5. itu ada pada diri saya dan julak iyan hehehe….
Hahaha, ciri-ciri... cocok bosMarch 29th, 2009 on 8:00 am
aslkm. wr. wb.
bujur jua tu julak ae,
betumpuk wayah nih, ngaku2 mahasiswa idealisme tinggi
kuciak-kuciak, anti korupsi, demo sana, demo sini, protes sana, protes sini,
pas mbuka laptop nya, hahaha,
Windows-nya bajakan
Microsoft Office nya bajakan
Photoshopnya bajakan
segalanya bajakan….
pas praktek di lab kampusnya, sama ja
segalanya bajakan..
kadanya kita benci windows pang, bukan pula kita benci microsoft..
kita cuman benci sama orang munafik bin pemalas
baru dengar kata Linux aja, sudah lemes duluan..
yah susah lah, yah rumit lah, yah ngga bisa lah :))
ke laut aja deh, jangan ngaku mahasiswa deh…
jangan ngaku anti korupsi deh
(muha telipat mode on)
Betul bos, kita masih punya harga diri dengan bersusah-susah untuk keberkahan rejeki.March 30th, 2009 on 3:28 am
bisa ikutankah bos
biasanya klo orang pake linux nggak pelit ama ilmu
dan orang yang royal ama ilmu maka ilmu yng di milikiny akan bertambah
Boleh dunk, tulisan2 di blog ini memang untuk dibagipakai oleh pembaca, tapi masih banyak kekurangan..so jangan nagih sama yang nulis yah:D tapi makasih udah mampir ya omApril 19th, 2009 on 1:45 pm
wah…wah…
memang kita ni generasi maling…
tapi kalo mau berubah pasti bisa untuk merubah paradigma maling…
tapi yang jadi masalah adalah beberapa oknum pengajar masih terbiasa menggunakan produk yang mahal…
dan kurikulum pun masih seperti itu…
Mungkin, salah satu alasan mereka hanya untuk menyampaikan konsep pembelajaran kepada peserta didik dengan cara yang mudah (bagi pengajar may be?). Yang pentingkan konsepnya, soal cara dan alat terserah mahasiswa/siswa, begitu katanya.Tetapi yang terjadi adalah kebiasaan turun temurun yang sulit ditinggalkan, pengajar menyampaikan materi menggunakan sebuah software yang bisa jadi materi tersebut beliau terima semasa menjadi mahasiswa pun disampaikan dengan software yang sama oleh pengajar sebelumnya. Maka kebiasaan tersebut telah terjadi bertahun-tahun yang lalu sejak pembelajaran dimulai, dan akan terus berlanjut dimasa depan apabila pengajar dan mahasiswa saat ini tidak menghentikannya dengan cara bersedia menyulitkan diri untuk belajar kembali menggunakan software-software alternatif tanpa harus membajak sebagaimana kebiasaan pengajar sebelumnya. Jika seorang siswa/mahasiswa dapat memahami konsep sebuah materi tanpa harus mengikuti cara pengajar, maka seorang pengajar telah sukses mencetak peserta didik yang cerdas dan aktif, serta siswa/mahasiswa tersebut merupakan gambaran peserta didik sebenarnya yang berpotensi berkembang tanpa terpaku dengan sebuah cara dalam memahami konsep.April 23rd, 2009 on 1:42 pm
http://linuxindo.web.id/2009/04/15/mempromosikan-ubuntu-tanggung-jawab-komunitas/
Mantab